
Pernyataan Sikap Front Perjuangan Rakyat (FPR)
Hari Buruh se-Dunia (May Day), 1 Mei 2009
Hentikan Perampasan Upah, Kerja, dan Tanah
Naikkan Upah Buruh! Hentikan PHK!
Secara historis, Hari Buruh se-Dunia merupakan perayaan atas kemenangan gerakan buruh menuntut hak atas upah dan delapan jam kerja. Tuntutan tersebut sesungguhnya tidak hanya memiliki makna terhadap kaum buruh, melainkan juga terhadap seluruh rakyat pekerja yang tertindas dan terhisap dari seluruh dunia. Upah layak dan delapan jam kerja adalah manifestasi pengakuan atas kemanusiaan dalam system produksi berdasarkan kerja upahan yang merupakan bentuk hubungan produksi paling maju dalam sejarah peradaban umat manusia di dunia. Read More…
Stop Agresi Militer Israel-AS ke Palestina!
Dukung Perjuangan Pembebasan Rakyat Palestina dan Arab Melawan Zionist Israel-Imperialisme AS!
Kawasan Timur tengah (Timteng) tengah membara akibat agresi militer pasukan Zionist Israel ke Gaza Palestina. Setidaknya 960 korban warga Palestina telah tewas, dimana sepertiganya adalah anak-anak dan 3500 lebih jiwa mengalami luka-luka. Konflik saat ini meluas dengan melibatkan Lebanon. Bagaimana kita melihat situasi ini?
|
S |
erangan Israel ke Palestina telah mendatangkan simpati kemanusiaan dari berbagai Negara, baik melalui kecaman kepala-kepala Negara hingga aksi-aksi protes menentang agresi Israel di berbagai belahan dunia. Aksi-aksi protes banyak dilakukan Negara dan umat muslim di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Benarkah agresi militer Israel ke Palestina adalah perang agama muslim versus (Vs) Yahudi? Bukankah umat Nasrani Palestina juga menjadi korban agresi militer Israel? Bukankah aksi protes menentang agresi militer Israel juga datang dari kaum Yahudi di Israel? Mengapa PBB dan Amerika Serikat (AS) berdiam diri?
I. Konflik Israel-Palestina Bukan Perang Agama
Kaum muslim di Timteng telah lama menjadi rakyat tertindas hidupnya dihancurleburkan kepentingan kolonialisme dan imperialisme (terutama imperialisme AS), untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah kekuasaan politik, ekonomi, kebudayaan dan militer. Sebab kawasan Timteng merupakan jalur strategis yang menghubungkan Asia dan Afrika Utara dan banyak menyimpan sumber-sumber minyak yang sangat dibutuhkan oleh imperialisme.
Sejarah mencatatan, bangsa Israel-Yahudi telah terusir dari tanahnya sejak dikalahkan kerajaan Romawi. Mereka lalu tersebar di daratan Eropa. Kawasan Timteng atau Jazirah Arab lalu dikuasai kerajaan Islam yang berpuncak pada masa kekuasaan Ottoman Turki. Ketika Perang Dunia (PD) I, Kerajaan Ottoman kalah oleh kolonialisme Inggris dan bersama Prancis membagi-bagi wilayah Timteng sebagai wilayah jajahannya, sekaligus menandai cengkraman kolonialisme-imperialisme terhadap bangsa dan rakyat Arab. Salah satu wilayahnya, adalah yang menjadi sengketa antara Palestina dan Israel saat ini. Read More…
STOP PHK, Berikan Upah Layak, Perjuangkan Penghidupan Kita
Setap hari kita pasti mendengar kabar soal “krisis global”, PHK bagi buruh, SKB 4 Menteri, buruh nuntut kenaikan upah, pupuk langka dan mahal, perampasan tanah, sekolah mahal, membludaknya pengangguran hingga aksi-aksi rakyat di berbagai penjuru Indonesia. Ada apa sesungguhnya?
I. Apa dan Kenapa Krisis terjadi?
Kita pasti bertanya-tanya apa itu dan kenapa krisis terjadi? Krisis berarti ada suatu keadaan tidak normal yang mengganggu proses kehidupan masyarakat. Krisis yang terjadi saat ini adalah krisis menyangkut penghidupan masyarakat yang terus merosot akibat tingginya beban ekonomi sehari-hari (mahalnya harga dan rendahnya upah/pendapatan). Krisis saat ini dikenal juga sebagai krisis ekonomi.
Kenapa krisis ekonomi terjadi? Krisis tidak semata-mata kiriman dari luar negeri seperti ucapan-ucapan pemerintah SBY-JK selama ini. Memang betul ada pengaruh dari luar negeri, tetapi persoalan pokok krisis sesungguhnya terletak di dalam negeri sendiri.
Krisis ekonomi terjadi karena pemerintah SBY-JK tidak pernah berupaya memajukan perekonomian bangsa dan mensejahterakan rakyat. Semua kekayaan alam kita dilepaskan kepada kaum pemodal asing (baca : imperialisme) maha rakus dan antek2nya di dalam negeri yang dikelola untuk keuntungan mereka sendiri. Minyak bumi dan gas alam (migas), batubara, dan berbagai bahan mineral lainnya, banyak dikuasai perusahaan dan negara asing yang mengakibatkan kita kekurangan BBM dan mahal harganya, karena dibeli dengan harga mahal dari imperialis dan perusahaan swasta dalam negeri. Akibatnya, harga BBM naik (dicabut subsidinya) dan mengakibatkan harga2 bahan pokok melambung tinggi, tariff listrik mahal, biaya produksi naik dan rakyat harus mencekik lehernya sendiri.
Perampokan sumber bahan mentah seperti di atas, telah mengakibatkan jutaan kaum tani kehilangan sumber penghidupan utamanya yaitu tanah. Perampasan tanah dilakukan atas nama kepentingan negara melalui PTPN, Perhutani, perkebunan swasta, HPH dan lembaga militer atau pemerintah sendiri. Tanah-tanah tersebut lalu ditanami tanaman-tanaman (komoditas) ekspor (sawit, jarak, jagung dan sebagainya), juga digunakan untuk pembangunan waduk, bandara, kompleks latihan militer, objek pariwisata, villa-villa, hingga perumahan-perumahan mewah yang lebih banyak mendatangkan petaka bagi kaum tani dan masyarakat. Akibatnya, banyak lahan produktif untuk pangan dalam negeri ambles dan kita dipaksa mengimpor produk pangan luar negeri yang berujung pada mahalnya harga-harga kebutuhan pokok dan matinya hasil produksi pertanian dalam negeri.
Kita juga dibuat bergantung atas produk-produk asing milik imperialis. Produk asing beredar luas di pasar dalam negeri mulai dari bahan baku, beras, jagung, gula, telur, daging, susu, pakaian, elektronik, dan lain sebagainya. Produk-produk asing leluasa beroperasi karena pemerintah memberikan keringanan tarif dan pajak bahkan disubsidi. Akhirnya, produksi dalam negeri mati perlahan-lahan karena kalah bersaing dengan produk asing. Jadinya, industri kecil dan menengah banyak gulung tikar dan menambah deretan jumlah pengangguran (akibat PHK) dan kemiskinan di Indonesia.
Dengan jumlah penduduk sebesar 220 juta jiwa, Indonesia adalah ladang subur bagi “tenaga kerja atau buruh” murah”. Upah buruh Indonesia salah satu yang terendah dari daftar 10 negara dengan upah buruh terendah di dunia. Upah buruh murah akan mendatangkan untung lebih besar bagi mereka yang mempekerjakannya. Itulah kenapa upah buruh Indonesia sangat jauh dari standar kehidupan layak (KHL). Pemerintah SBY-JK dan pengusaha-pengusaha besar komprador (penjilat) bersama menindas buruh agar upahnya tetap rendah. Bagi kaum tani miskin dan buruh tani, persoalan upah ini lebih perih lagi rasanya. Selain rendah upahnya, mereka juga diperlakukan tak ubahnya budak di atas lahan garapan para tuan tanah, terutama di lahan-lahan milik perkebunan-perkebunan besar.
Penguasaan atas sumber-sumber bahan mentah, pasar dan buruh murah untuk keuntungan besar imperialisme dan antek2nya di Indonesia, merupakan penyebab utama krisis ekonomi. Ini mampu dijalankan, karena kekuasaan negara dipegang oleh Pemerintah boneka imperialisme dan anti rakyat seperti pemerintahan SBY-JK. saat ini. Pemerintahan SBY-JK adalah alat dari imperialisme (terutama imperialisme AS) dan antek-anteknya di dalam negeri, yaitu borjuasi (pengusaha/pedagang/kapitalis) besar komprador, tuan tanah dan kapitalis birokrat (pejabat korup),
II. Dampak Krisis Bagi Buruh dan Rakyat Tertindas
Krisis yang berlangsung saat ini akan lebih menambah derita rakyat Indonesia, terutama bagi klas buruh, kaum tani dan rakyat tertindas lainnya. Dengan dalih mahalnya harga bahan baku, mandeknya ekspor, kenaikan harga BBM, beban pajak atau apa yang disebut biaya siluman, pengusaha dan pemerintah menyelamatkan dirinya sendiri dengan membiarkan buruh terlantar melalui ancaman PHK luas dan upah yang semakin rendah.
Belum lama ini dikeluarkan Peraturan Bersama (PB) 4 menteri yang intinya meminta pengusaha tidak menaikkan upah buruh di atas pertumbuhan ekonomi 6 persen. Jika pertumbuhan ekonomi 6 persen dan upah naik 6 persen, apa gunanya jika inflasi melebih 6 persen. Inflasi artinya antara pendapatan masyarakat tidak mampu menjangkau harga-harga di pasar. Upah 6 persen dan inflasi di atas 6 persen sama saja buruh tidak mendapatkan kenaikan upah, karena upah yang didapatkan telah habis untuk menanggung beban kenaikan harga-harga saat ini serta kebutuhan sehari=hari lainnya.
Pemerintah dan para borjuasi komprador menyatakan jika buruh tidak mau PHK harus siap dibayar murah, jika mau upah naik siap-siaplah di PHK. Selama ini pengusaha selalu mempercepat proses PHK untuk mengalihkan status buruh tetap/karyawan ke buruh kontrak & outsourcing. Buruh kontrak dan outsourcing akan lebih menguntungkan pengusaha, karena hanya bayar gaji pokok dan tidak perlu menanggung tunjangan, bonus, pesangon ataupun uang pensiun. Buruh saat ini semakin terancam, karena banyak buruh yang telah di PHK dan dirumahkan. Tahun depan (2009) diperkirakan PHK akan terjadi lebih “buas” lagi. Sementara pemerintah dan pengusaha terus cuci tangan atas soal ini dengan alasan krisis ekonomi global.
Upah buruh selama ini juga banyak yang dibayarkan tidak sesuai ketentuan upah minimum (UMP/UMK/UMR). Jikapun ada, itu sudah kena potong pajak, asuransi, Jamsostek dan tunjangan. Upah minimum yang berlaku banyak yang tidak sesuai standar KHL yang telah ditentukan. Perhitungan upah juga hanya berdasarkan upah lajang (belum nikah) laki-laki, sementara sebagian besar buruh adalah perempuan dan banyak yang telah berkeluarga.
Pemerintah dan pengusaha selalu menuduh tuntutan kenaikan upah buruh sebagai biang terjadinya inflasi. Bukan upah buruh yang sesungguhnya menjadi sumber utama inflasi, tetapi ketidakmampuan pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi riil (produksi barang) seperti sokongan keuangan untuk industri, penyediaan bahan baku dan penataan pasar.
Penderitaan akibat krisis ekonomi juga dialami kaum tani di Indonesia, terutama bagi tani miskin dan buruh tani. Perampasan tanah yang terus meningkat guna perluasan perkebunan besar dan peruntukan tanah lainnya di luar kepentingan kaum tani, membuat kaum tani hidup dengan nafas di ujung tenggorokan. Kaum tani saat ini harus berhadapan dengan mahal dan langkanya pupuk di musim tanam. Jatuhnya harga-harga komoditas pertanian ekspor dan membanjirnya komoditi pertanian impor, mengakibatkan pendapatan petani semakin anjlok karena harganya jatuh dan tersedot habis untuk beban biaya produksi (bibit dan pupuk) yang mahal. Belum lagi soal rendahnya upah buruh tani, tingginya sewa tanah, bagi hasil yang tidak adil, tengkulak dan lilitan utang dari peribaan di pedesaan.
Soal-soal lain juga dihadapi rakyat akibat menajamnya krisis ekonomi. Dimana-mana harga barang kebutuhan pokok melonjak, biaya sekolah semakin tinggi, kesehatan mahal, pengangguran terus membludak, penggusuran menjadi-jadi, meningkatnya jumlah pekerja di luar negeri (TKI/TKW), prostitusi dan kriminalitas merajalela serta jurang kemiskinan yang terus terbuka lebar. Intinya, krisis ekonomi ini tidak akan memberikan harapan hidup lebih baik bagi buruh dan rakyat tertindas lainnya, selain kemelaratan dan penderitaan yang semakin hebat.
III. Stop PHK, Berikan Upah Layak, Perjuangkan Penghidupan Kita
Klas buruh saat ini menjadi tumbal utama dari kegagalan pemerintah SBY-JK dalam mengatasi krisis ekonomi, dengan dua ancaman besar yaitu PHK luas dan upah semakin rendah. Krisis ekonomi tidak bisa dijadikan alasan bahwa buruh pantas jadi korban. Untuk itu, buruh harus menuntut “Stop PHK” dan “Berikan Upah Layak”.
Kenapa menolak PHK? Pertama, kerja adalan pegangan kita untuk tetap bisa bertahan hidup dan sebagai warga negara kita berhak mendapatkan pekerjaan layak, dimana pemerintah bertanggung jawab atas hal tersebut. Buruh bukanlah faktor yang memperburuk krisis ekonomi, tetapi kebijakan industri pemerintah yang menerapkan kebijakan mahalnya bahan baku, tetap menaikkan harga solar, rendahnya bantuan keuangan untuk industri, murahnya harga produk ekspor, membatasi pasar dalam negeri bagi produksi dalam negeri dan beban pajak yang tinggi terhadap perusahaan.
Jika PHK terjadi, buruh akan kehilangan pekerjaannya, kehilangan pendapatan hidup, beban ekonomi keluarga semakin berat dan kemelaratanlah yang terjadi. Apalagi saat ini PHK ini juga melanda beberapa tenaga kerja Indonesia di luar negeri akan dipulangkan akibat krisis yang juga terjadi di negeri-negeri tujuan TKI tersebut. Artinya negeri ini akan menampung sekian banyak jumlah pengangguran yang luar biasa. Sementara pengusaha belum tentu mau menerima buruh baru secara besar, jikapun diterima siap-siaplah kita dijadikan sebagai tenaga outsourcing dan kontrak yang lebih memberatkan bagi buruh. Jikapun tetap menganggur di tengah kebutuhan ekonomi yang semakin tinggi, mereka yang perempuan bisa saja melacurkan dirinya dan tindakan-tindakan kriminal lainnya yang terpaksa dilakukan karena tidak ada lagi pilihan untuk bertahan hidup.
Dalam menjawab masalah pengangguran ini, pemerintah pun tidak punya obat yang mujarab. Biasanya akan dibuka program infrastruktur besar-besaran atau proyek-proyek bangunan yang itu sifatnya jangka pendek. Dengan kerja jadi kuli bangunan sekalipun, hanya bisa gali lobang tutup lobang. Jika tidak, pemerintah melakukan transmigrasi untuk memindahkan jumlah pengangguran yang besar di perkotaan besar ke daerah pedalaman untuk pembukaan lahan. Masalahnya, lahan-lahan tersebut biasanya digunakan untuk kepentingan perkebunan, dimana mereka akan diperlakukan layaknya budak sebagai buruh kebun atau buruh tanam. Pembukaan lahan ini juga bisa berdampak pada konflik sesama masyarakat penduduk asli pemilik lahan awal dengan para transmigran. Ini bisa berakibat seperti konflik di Sambas Kalimantan.
Kenapa Upah Layak? Upah didasarkan pada ketentuan standar KHL yang ada bersandar pada suvey kebutuhan harian buruh yang terdiri dari 47 item pokok. Dihadapkan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok—terutama pangan—dan energi (utamanya solar), komponen ini banyak yang dipotong. Hingga upah yang berlaku saat ini tidaklah sesuai degan standar KHL 100 persen. Itu bisa dilihat meskipun ada pembayaran Upah minimum, tetapi ada pembatasan atau pencabutan tunjangan untuk makan atau transportasi. Lagi-lagi ini terkait dengan kebijakan pemerintah SBY-JK yang tetap mempertahankan mahalnya harga-harga komoditas pertanian impor dalam negeri dan kenaikan harga BBM.
Upah minim tentu sangat berat dalam menganggung kenaikan harga-harga kebutuhan pokok saat ini. Kondisi hidup buruh akan lebih buruk dan bertambahnya beban ekonomi karena ngutang sana-sini guna menutupi kekurangan hidupnya. Kondisi fisik buruh juga terancam, akibat berkurangnya asupan gizi. Buruh harus bekerja dengan waktu kerja lebih panjang (lembur dan shift) untuk meningkatkan target pengusaha, terutama sejak pemadaman listrik bergilir terjadi. Jika target tidak dipenuhi, buruh bisa saja di PHK. Jika dipaksakan, kondisi kesehatan makin menurun, apalagi perlindungan kerja (K3) dan jaminan bagi buruh dan keluarganya (JPK) sangat terbatas, bahkan banyak yang tidak diberikan. Waktu buruh bersama dengan keluarga juga akan semakin mepet, karena waktunya habis untuk bekerja. Inilah yang mengakibatkan cek-cok di keluarga buruh, anak tidak terurus dengan baik, dan terkadang harus berujung dengan perceraian.
Selain itu, buruh juga harus terus memperjuangkan hak-hak dia selain hak-hak dasarnya untuk mendapatkan upah dan kondisi kerja yang lebih baik. Artinya buruh juga harus memperjuangkan persoalan rakyat secara umum seperti menurunkan harga-harga kebutuhan pokok dan BBM, tanah untuk kaum tani, pendidikan dan kesehatan gratis, jaminan lapagan pekerjaan dan lain sebagainya. Mengapa? Sebagai contoh, memperjuangkan turunkan harga sembako dan BBM, akan membuka jalan lebih lapang bagi tuntutan upah layak sesuai KHL 100 persen.
Bagi pengusaha (terutama pengusaha kecil dan menengah), seharusnya mereka menuntut pemerintah untuk membantu keringanan bagi sektor industri atas beban-beban di luar upah buruh. Jika mereka tidak berani mengambil tindakan ini, jangan salahkan buruh jika badai gelombang aksi-aksi buruh siap menerjang mereka setiap saat di waktu-waktu ke depan.
IV. Peran Klas Buruh dan Sekutu Perjuangannya
Bagi buruh bekerja dan upah adalah syarat yang tidak bisa diganggu gugat agar bisa tetap hidup. Kita sadar selama bekerja telah terjadi berbagai ketidakadilan yang dirasakan. Tenaga kerja kita selalu diperas dan dipaksa pengusaha untuk menghasilkan barang bagi kepentingan masyarakat luas, tetapi itu hanya dihargai dengan upah minim yang memaksa kita selalu mengencangkan ikat pinggang, walaupun pinggang itu sendiri sudah semakin kecil rasanya.
Inilah hukumnya, pengusaha akan terus melipatgandakan keuntungan dari buruh dengan terus menekan upah serendah mungkin disertai kondisi kerja yang buruk. Pengusaha dan buruh tidak akan pernah bisa berdamai. Buruh hanya bisa mendapatkan haknya dengan berjuang. Hanya perjuangan buruh yang bersandar pada perjuangan massa (aksi massa) yang dapat memaksa pengusaha dan pemerintah memenuhi tuntutan buruh. Klas buruh harus bangkit dan berjuang saat ini untuk mendapatkan hak-haknya yang telah dirampas pengusaha dan pemerintah di balik tameng-tameng krisis ekonomi global.
Klas buruh telah menunjukkan keteladannya sebagai klas paling maju dalam masyarakat. Penuh pengorbanan karena bekerja untuk kepentingan masyarakat, tapi dihargai murah dan diperlakukan layaknya sapi perahan oleh si kapitalis. Klas buruh bekerja secara kolektif, disiplin dan memiliki persamaan nasib yang tinggi akibat tindasan dari sang kapitalis. Di tengah penderitaan yang dihadapinya, klas buruh tetap menjadi kekuatan paling depan dalam memperjuangkan nasibnya dan rakyat tertindas.
Perjuangan klas buruh sangat menakutkan bagi pengusaha dan pemerintah. Bayangkan jika buruh seluruhnya mogok? Bisa dipastikan seluruh denyut kehidupan masyarakat bisa terhenti, karena produksi, perputaran barang, uang dan pemenuhan kebutuhan akan terganggu. Tentu ini juga akan membuat si kapitalis rugi besar. Itulah sebabnya, pecah belah kekuatan buruh dan pemberangusan kebebasan berserikat terus dllakukan. Tujuannya agar buruh tidak bersatu memperjuangkan hak-haknya melawan pengusaha dan pemerintah.
Lantas siapakah sejoli perjuangan klas buruh di Indonesia? Jawabnya adalah kaum tani. Kaum tani menjadi sumber utama bagi kehidupan masyarakat sebagai penghasil pangan. Kaum tani yang hidup bersandarkan tanah, menjadi denyut nadinya imperialisme untuk menguasai sumber bahan mentah sebagai pasokan bahan baku negeri-negeri imperialis. Itulah penyebab perampasan tanah terus terjadi hingga mengakibatkan kemiskinan di pedesaan, yang memaksa mereka pergi ke kota sebagai buruh murah. Akibat kerakusan imperialis menguasai sumber bahan mentah, memaksa kita mengimpor bahan baku yang mahal harganya, hingga menambah keterpurukan industri dalam negeri dan penderitaan buruh.
Atas dasar ini, klas buruh dan kaum tani harus bersatu dalam sebuah persatuan yang kuat. Keduanya adalah pilar ekonomi bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Tanah bagi kaum tani dengan menjalankan land reform sejati akan menjadi dasar bagi pembangunan industrialisasi nasional yang kuat. Industrialisasi nasional akan menyandarkan pada bahan baku dalam negeri, pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan peningkatan kesejahteraan buruh. Dengan demikian akan membawa tingkat kemajuan bagi ekonomi bangsa dan kesejahteraan rakyat. Sayangnya, hal ini tidak mungkin dilakukan pemerintah boneka imperialis dan anti rakyat seperti SBY-JK. Ini hanya bisa dilakukan oleh pemerintahan rakyat yang anti imperialisme dan anti feodalisme.
Imperialisme dan antek-anteknya di dalam negeri (borjuasi besar komprador, tuan tanah dan kapitalis birokrat) atau musuh-musuh rakyat, tidak menghendaki klas buruh dan kaum tani bersatu. Mereka juga akan menindak keras setiap perjuangan klas buruh dan kaum tani. Untuk itulah, klas buruh dan kaum tani harus menyadari baik hal ini dan mempersiapkan dirinya lebih kuat, besar dan gigih, untuk melawan imperialisme dan antek-anteknya di dalam negeri dalam wujud pemerintahan SBY-JK saat ini.
Di bawah dominasi imperialisme dan sisa-sisa feodalisme—penindasan berdasarkan monopoli atas tanah—di Indonesia, tidak hanya klas buruh dan kaum tani yang menderita, tetapi juga sektor/golongan lainnya seperti pemuda, mahasiswa. Pelajar, kaum perempuan, kaum miskin perkotaan, pegawai negeri rendahan, guru, dosen, dan sebagainya. Klas buruh dan kaum tani juga perlu bersekutu dengan sektor/golongan tertindas ini, untuk melawan pemerintah boneka imperialis dan anti rakyat sebagai biang kerok keterpurukan rakyat saat ini. Semuanya agar pukulan kita bisa semakin kuat dan besar untuk merobohkan musuh-musuh rakyat tersebut.
V. Ayo Bersatu Lawan Rejim SBY-JK!
Dalam situasi penghidupan klas buruh, kaum tani dan seluruh rakyat Indonesia yang semakin terpuruk, tidak ada jalan lain bagi kita selain bersatu dan berjuang menuntut hak-hak kita, walaupun itu harus berhadapan dengan tembok keras kekuasaan politik pemerintah SBY-JK. Aksi-aksi di pabrik, aksi di perkotaan dan nasional perlu dilakukan untuk memperjuangkan hak buruh. Klas buruh juga harus berjuang bersama rakyat tertindas lainnya untuk mendapatkan hak-hak kita sebagai rakyat Indonesia secara umum.
Dalam waktu dekat ini, seluruh dunia akan memperingati 60 tahun deklarasi hak asasi manusia (HAM) sedunia atau dikenal sebagai Hari HAM Sedunia yang jatuh setiap tanggal 10 Desember. Momentum ini sangat penting digunakan klas buruh Indonesia untuk menyatukan barisan dan memperjuangkan hak-haknya, apalagi di tengah gejolak kebangkitan gerakan buruh belakangan ini. Kita juga menjadikan peringatan ini sebagai upaya memperkuat persatuan bersama kaum tani dan rakyat tertindas lainnya memperjuangkan hak-hak rakyat yang telah dirampas pemerintah SBY-JK. Ini juga untuk mempererat solidaritas kita dengan kawan-kawan seperjuangan di seluruh dunia yang terus berjuang melawan imperialisme pimpinan AS dan rejim boneka di berbagai negeri. Mari berjuang menuntut Stop PHK, Berikan Upah Layak, dan Hentikan Perampasan Hak-Hak Rakyat! Perkuat Persatuan dan Perhebat Perjuangan Rakyat Melawan Rejim Boneka Imperialis Amerika dan Anti Rakyat, SBY-JK!
Jakarta, 5 Desember 2008
Klas Buruh Indonesia, Pemimpin Pembebasan!
Kaum Tani Indonesia, Soko Guru Pembebasan!
Pemuda dan Mahasiswa, Bersatu dan Berjuang Bersama Rakyat!
Perempuan Indonesia, Bangkit Melawan Penindasan!
Hidup Rakyat Indonesia!
Pendidikan dan Propaganda secara reguler dan sistematis guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran anggota merupakan kata kunci dan syarat mutlak demi tercapainya tujuan gerakan pembetulan.
Dominasi budaya atau cara berpikir Imperialisme yang telah merasuk hingga tulang sumsum mayoritas dari pemuda Indonesia harus dilawan secara terus-menerus malalui intensitas pendidikan dan propaganda.
Sehingga, pendidikan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran massa merupakan jawaban tepat untuk senantiasa berupaya membetulkan pikiran-pikiran yang salah.
Aktivitas rutin kerja bakti membersihkan kampung merupakan aktivitas rutin yang dijalani. Semua warga antusias dalam menjalankan kerja bakti. Upaya ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam meraih simpati warga guna mendukung perjuangan pemuda.
Hidup Pemuda
Lawan rejim komprador
SBY-JK musuh rakyat
SBY-JK musuh pemuda
Sahur, Sahur…
“Peringatan “Hari Kemerdekaan” RI ke-63″