RAKYAT BERSATU :
TOLAK KENAIKAN HARGA BBM
TURUNKAN HARGA SEMBAKO
BERIKAN SUBSIDI untuk RAKYAT
Rencana rejim SBY-JK untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak(BBM) sebesar 30% untuk kesekian kalinya merupakan pukulan bagi rakyat yang sangat telak dan menyakitkan ditengah melambungnya harga-harga bahan pokok. Kenaikan harga BBM akan semakin memperparah keadaan perekonomian rakyat yang dari ke hari semakin merosot. Naiknya harga BBM bisa dipastikan akan memicu lebih tinggi lagi harga-harga bahan pokok yang hari ini pada kenyataannya semakin tidak terjangkau oleh rakyat, terutama kaum buruh, buruh tani, tani miskin dan rakyat miskin lainnya.
Alasan atau lebih tepatnya pembelaan yang tidak masuk akal yang dikemukakan oleh rejim SBY-JK untuk menaikkan harga BBM adalah karena tingginya harga minyak mentah dunia yang saat ini berkisar diantara $ 110 per barrel. Padahal pada kenyataannya, seperti kita ketahui bersama, bahwa di negeri ini, banyak sekali perusahaan-perusahaan pertambangan minyak mentah milik Imperialis seperti CALTEX di riau, EXXON MOBILE di Cepu-bojonegoro, PETRO CHINA-bojonegoro dan masih banyak lagi lainnya yang selama ini secara terus-menerus mengeruk sumber-sumber minyak mentah di Indonesia. Artinya, bahwa melambungnya harga minyak mentah di pasar dunia hanyalah menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan pertambangan minyak milik kaum imperialis, tidak memberikan keuntungan bagi rakyat karena hasilnya tidak pernah dinikmati oleh rakyat.
Produksi minyak mentah dari perusahaan-perusahaan milik kaum imperialis dan borjuasi komprador Indonesia selama ini tidak pernah diperuntukkan untuk kemakmuran rakyat. Semua hasil produksinya berupa minyak mentah di-ekspor keluar negeri untuk diolah menjadi bahan jadi (BBM) bagi industri milik imperialis. Sehingga, tidak mengherankan apabila Pertamina sebagai BUMN yang selama ini menjadi penyuplai BBM di Indonesia seakan tidak memiliki pilihan lain selain melakukan impor BBM yang dipastikan akan berkali-kali lipat harganya. Imbas lain adalah dikuranginya kapasitas produksi hingga 50 % kilang minyak milik pertamina di Balongan-Indramayu dan Cilacap yang diakibatkan tiadanya pasokan bahan baku minyak mentah.
Selain menaikkan harga BBM, sebenarnya rejim SBY-JK memiliki opsi atau pilihan lain yaitu : Pertama, Membatasi penggunaan BBM bersubsidi dengan menggunakan sistim smart card yang telah diuji cobakan di Bali dan Batam. Kedua, adalah dengan menaikkan lifting produksi minyak mentah di Indonesia dari sebesar 910 ribu barrel/hari menjadi 975 ribu barrel/hari yang diaumsikan dapat menutup defisit APBN 2008. Namun, diantara kedua opsi diatas, tampaknya bukan merupakan pilihan bagi rejim SBY-JK yang merupakan rejim komprador karena dipastikan akan berseberangan dengan kepentingan imperialis yang selamanya tidak akan pernah ber-kehendak untuk mengurangi super profit-nya. Rejim SBY-JK sekali lagi telah menampakkan wajah aslinya sebagai rejim pelayan dari kepentingan Imperialis(rejim komprador).
Sehingga, apabila ditinjau dari dampak yang akan terjadi apabila rejim SBY-JK kembali menaikkan harga BBM untuk kesekian kalinya, maka dapat dipastikan kenaikan harga BBM akan berimbas pada kenaikan harga sembako. Juga harga-harga lainnya ditengah rendahnya upah kaum buruh dan buruh tani, maraknya sistim buruh kontrak, maraknya PHK, mahalnya biaya pendidikan, tingginya angka pengangguran, dan berbagai macam persoalan rakyat lainnya. Kenaikan harga akan memicu angka kemiskinan yang diperkirakan telah mendekati angka 30 % dari total 224 juta jumlah penduduk Indonesia.
Rejim SBY-JK seakan menutup mata terhadap berbagai macam persoalan yang tengah dihadapi oleh rakyat. SBY-Jk berdalih bahwa semua persoalan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia adalah diakibatkan oleh tingginya harga minyak mentah di pasar dunia, tingginya harga pangan di pasar dunia, permainan para spekulan, krisis kredit macet keuangan di AS(subprime mortgage) yang pada dasarnya mencari kambing hitam atas persoalan yang tengah dihadapi oleh rakyat. SBY-JK berdalih bahwa tidak dapat berbuat apa-apa terhadap krisis yang sedang dialami oleh imperialisme AS dan negeri-negeri Imperialis lainnya dan tidak pernah mencari jalan keluar yang konkret atas krisis yang sedang dialami oleh imperialisme akibat kerakusannya.
SBY-JK justru mencabut subsidi bagi rakyat yang merupakan salah satu komponen penyangga harga dan menaikkan daya beli rakyat, terutama kaum buruh, kaum buruhtani-tani miskin dan rakyat miskin lainnya. Pencabutan subsidi pada kenyataannya semakin menjerumuskan mayoritas rakyat Indonesia kedalam jurang kemiskinan yang semakin dalam. Terbukti dari hari kehari angka kemiskinan semakin melonjak drastis. Angka putus sekolah semkin meningkat dan angka pengangguran semakin meningkat. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa rejim SBY-JK merupakan rejim komprador imperialis dan rela menindas rakyat Indonesia dengan berbagai kebijakannya yang jelas-jelas merugikan seluruh rakyat Indonesia dan menguntungkan kaum Imperialis.
1 Comment(s)
Comments RSS TrackBack Identifier URI




BBM naik pasti akan menyengsarakan rakyat karena kenaikan BBM pastinya memicu kenaikan harga-harga lainnya, mari kita perkuat persatuan kita dan mari sama-sama kita terus perhebat organisasi demokratik, salut dan bangga Pemuda hari ini aktif berjuang terlibat dalam perjuangan massa.