Stop Agresi Militer Israel-AS ke Palestina!
Dukung Perjuangan Pembebasan Rakyat Palestina dan Arab Melawan Zionist Israel-Imperialisme AS!
Kawasan Timur tengah (Timteng) tengah membara akibat agresi militer pasukan Zionist Israel ke Gaza Palestina. Setidaknya 960 korban warga Palestina telah tewas, dimana sepertiganya adalah anak-anak dan 3500 lebih jiwa mengalami luka-luka. Konflik saat ini meluas dengan melibatkan Lebanon. Bagaimana kita melihat situasi ini?
|
S |
erangan Israel ke Palestina telah mendatangkan simpati kemanusiaan dari berbagai Negara, baik melalui kecaman kepala-kepala Negara hingga aksi-aksi protes menentang agresi Israel di berbagai belahan dunia. Aksi-aksi protes banyak dilakukan Negara dan umat muslim di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Benarkah agresi militer Israel ke Palestina adalah perang agama muslim versus (Vs) Yahudi? Bukankah umat Nasrani Palestina juga menjadi korban agresi militer Israel? Bukankah aksi protes menentang agresi militer Israel juga datang dari kaum Yahudi di Israel? Mengapa PBB dan Amerika Serikat (AS) berdiam diri?
I. Konflik Israel-Palestina Bukan Perang Agama
Kaum muslim di Timteng telah lama menjadi rakyat tertindas hidupnya dihancurleburkan kepentingan kolonialisme dan imperialisme (terutama imperialisme AS), untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah kekuasaan politik, ekonomi, kebudayaan dan militer. Sebab kawasan Timteng merupakan jalur strategis yang menghubungkan Asia dan Afrika Utara dan banyak menyimpan sumber-sumber minyak yang sangat dibutuhkan oleh imperialisme.
Sejarah mencatatan, bangsa Israel-Yahudi telah terusir dari tanahnya sejak dikalahkan kerajaan Romawi. Mereka lalu tersebar di daratan Eropa. Kawasan Timteng atau Jazirah Arab lalu dikuasai kerajaan Islam yang berpuncak pada masa kekuasaan Ottoman Turki. Ketika Perang Dunia (PD) I, Kerajaan Ottoman kalah oleh kolonialisme Inggris dan bersama Prancis membagi-bagi wilayah Timteng sebagai wilayah jajahannya, sekaligus menandai cengkraman kolonialisme-imperialisme terhadap bangsa dan rakyat Arab. Salah satu wilayahnya, adalah yang menjadi sengketa antara Palestina dan Israel saat ini.
Dalam perjalanan sejarah bangsa Yahudi, kelompok ultra-nasionalis (nasionalisme sempit-sovinisme) pimpinan Theodore Herzel mendeklarasikan kelahiran “zionisme” pada akhir abad 19. Kelompok Zionist adalah kelompok garis keras Yahudi yang memiliki cita-cita mengembalikan bangsa Israel ke tanah asalnya dan kedigdayaan ras Yahudi. Hal itu didasari keadaan saat itu, dimana gerakan anti semit/Yahudi meluas di Eropa dan adanya program Pogrom (pembasmian Yahudi) yang dilakukan Raja Tsar Rusia. Gerakan anti semit ini berpuncak pada holocaust (pembantaian) yang dilakukan Nazi Hitler terhadap bangsa Yahudi dalam masa PD II. Hitler menganggap Bangsa Yahudi—sebagian besar adalah kelompok Zionist—yang ketika itu merupakan borjuasi monopoli di Eropa dan AS, sebagai penyebab depresi atau krisis ekonomi besar dunia di tahun 1929.
Setelah PD II berakhir, kaum Zionist meminta bantuan Imperialisme AS—satu-satunya Negara imperialis yang selamat dari PD II—untuk membantu mereka mendapatkan kembali tanahnya di Jazirah Arab. Sebagai imbalan, kaum Zionist bersedia membantu niat imperialisme AS menguasai dunia. Imperialisme AS melalui PBB lalu menyokong berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948. Imperialisme AS melakukannya dengan tujuan menjadikan Israel sebagai “negara satelit” AS yang digunakan untuk menghalangi kepentingan borjuasi nasional Arab anti imperialisme AS dan memerangi gerakan pembebasan nasional bangsa dan rakyat Arab dari belenggu kolonialisme-imperialisme di kawasan Timteng. Gerakan pembebasan nasional saat itu memang tengah meluas di Asia, Afrika dan Amerika Latin, tak terkecuali di kawasan Timteng.
Pada 1957, Zionist Israel kembali melakukan agresi militer dengan dukungan imperialisme AS. Zionist Israel berhasil mendapatkan sebagian besar wilayah Arab meliputi Mesir, Lebanon, Suriah, Yordania, dan Palestina. Perang agresi ini tidak semata-mata untuk memperluas wilayah Negara Israel, tetapi sesungguhnya untuk menghancurkan kekuasaan politik pimpinan Nasionalis Mesir Gamal Abdul Nasser dan sekutunya, sekaligus mendapatkan Terusan Suez yang menjadi jalur transportasi perdagangan penting di Timteng oleh Imperialisme AS. Sejak saat itulah, konflik berkepanjangan Negara-negara Arab Vs Israel terus terjadi. Okupasi Israel atas Palestina juga mengakibatkan jutaan rakyat Palestina terusir dari tanahnya hingga saat ini.
Langkah bangsa Arab untuk menghadang laju Zionist Israel ditindaklanjuti dengan mendirikan Liga Arab dan membentuk Palestine Liberation Organization (PLO) untuk mendukung kemerdekaan rakyat Palestina. Perang besar kembali berkecamuk di tahun 1976 antara Negara-negara Arab dengan Israel. Dalam perkembangannya, langkah penyelesaian konflik Arab-Israel banyak ditempuh melalui jalur diplomasi dengan sponsor imperialisme AS. Akibatnya, imperialisme AS berhasil menjinakkan pimpinan-pimpinan Negara-negara Arab komprador dengan sokongan bantuan ekonomi dan persenjataan. Guna memecahbelah persatuan bangsa dan rakyat Arab, imperialisme AS menciptakan konflik bersenjata seperti perang Iran-Irak, Irak Kuwait dan konflik lainnya di sekitar perbatasan Timteng. Imperialisme AS juga membina jaringan kelompok militan Islam garis keras sepertiAl-Qaeda, untuk menciptakan citra buruk atas perjuangan pembebasan bangsa dan rakyat Arab di mata dunia. Hal ini juga sebagai legitimasi imperialisme AS untuk terus cmapur tangan dalam konflik di Timteng.
Sangat jelas bahwa imperialisme AS adalah biang kerok utama dari konflik yang terus berlangsung di Jazirah Arab. . Dalam agresi Zionist Israel ke Palestina, imperialisme AS mendukung dengan bantuan pesawat F-16, helikopter Apache dan bantuan artileri dari kapal laut yang digunakan untuk membunuh ratusan orang dan melukai ribuan rakyat palestina di Gaza, menghancurkan tempat tinggal, rumah ibadah, sekolah, bangunan publik, pom bensin, insatalasi listrik, fasilitas air bersih dan infra struktur lainnya.
Masihkah kita menganggap ini semua perang Islam Vs YahudI? Tidak semua kaum Yahudi adalah pengikuti Zionist. Banyak warga Yahudi dan Rabbi (pemuka agama Yahudi) yang juga menentang Zionisme. Mereka inilah yang berkampanye menuntut penghentian perang agresi Israel terhadap Palestina dan Negara-negara Arab lainnya. Jika benar ini perang agama, kenapa pimpinan-pimpinan Negara Arab yang sebagian besar muslim hanya berdiam diri saja atas apa yang tengah menimpa rakyat Palestina? Raja Arab Saudi justru membiarkan negerinya menjadi tempat bagi pangkalan militer AS yang digunakan untuk menyerang rakyat Arab. Mandulnya Liga Arab saat ini dan betapa pengecutnya Mesir yang tidak memberikan tempat bagi pengungsi Palestina.
Perang agresi yang dilancarkan Zionist Israel dengan dukungan imperialisme AS, sesungguhnya untuk memenuhi nafsu imperialisme AS menguasai kawasan Timteng yang kaya akan sumber minyak dan bahan-bahan mineral dan menjadikannya sebagai wilayah pengaruh politik dan kepentingan militer imperialisme AS.
II. Perang Agresi : Jalan Keluar Dari Krisis Umum Imperialisme
Petaka kemanusiaan di Palestina tidak bisa dilepaskan dari situasi perkembangan krisis umum imperialisme, yang telah menyeret dunia dalam krisis minyak, krisis pangan, krisis lingkungan, krisis keuangan dan krisis ekonomi global. Sejak tahun 2000, imperialisme AS mengalami over produksi (kelebihan produksi barang) berteknologi tinggi dan persenjataan. Keadaan ini mengharuskan imperialisme AS melakukan kembali pembagian wilayah dunia guna mendapatkan sumber ekonomi bagi pasar barang-barang produksinya sekaligus ekspansi (perluasan) modal. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan penghisapan ekonomi dan perang agresi terhadap negeri-negeri terbelakang atau bergantung di kawasan Asia, Amerika Latin, termasuk Negara-negara Arab di TImteng.
Kenapa perang agresi menjadi jawaban dari krisis di tubuh imperialisme? Sebab imperialisme terus memproduksi barang secara besar-besaran (anarkhi produksi) karena berupaya mencari untung sebesarnya-besarnya, baik dari penjualan dan upah rendah yang dibayarkan kepada buruh yang memproduksi barang tersebut. Itu semua membutuhkan pasar agar produk-produknya laris manis di berbagai negeri, hingga keuntungan yang didapatkan lebih melimpah (super profit). Imperialisme juga akan menguasi keseluruhan (monopoli) atas sumber-sumber bahan mentah (kekayaan alam) negeri-negeri terbelakang sebagai pasokan bahan baku sekaligus komoditi yang diperdagangkan kembali. Pastinya, imperialisme juga akan terus berupaya mencari tenaga kerja (buruh) murah.
Semua ini beriringan dengan ekpansi (perluasan) modal imperialisme ke negeri-negeri bergantung, melalui kerjasama-kerjasama ekonomi yang tidak adil, utang luar negeri, bantuan-bantuan kemanusiaan, kebudayaan hingga kemiliteran. Hal ini begitu mudah dilakukan, karena imperialisme menyokong rejim-rejim boneka-nya di negeri-negeri bergantung untuk memuluskan segala kepentingannya. Jika penghisapan imperialisme mendapatkan perlawanan keras dari rakyat atau pemerintahan yang anti imperialisme, imperialisme akan melancarkan perang agresi terhadap negeri tersebut. Perang agresi juga menjadi jawaban bagi imperialisme—terutama imperialisme AS—untuk mengatasi over produksi persenjataan agar laris manis di pasaran. Sebagai catatan, produksi persenjataan AS mengambil porsi 2/3 dari total produksi barang AS dan belanja militer AS adalah yang terbesar dari seluruh negeri imperialis. Itulah kenapa, perang agresi dilancarkan imperialisme AS ke Afghanistan, Irak dan yang tengah berlangsung di Palestina saat ini.
III. Provokasi Perang Terhadap Teror
Serangan ke Palestina juga dijadikan provokasi untuk melancarkan kampanye “perang terhadap terorisme” (war on terror). Sejak tragedi 11 September 2001 atau penyerangan terhadap gedung WTC di AS, imperialisme AS melancarkan perang terhadap terorisme. Sasarannya adalah kelompok-kelompok militan Islam dan Negara yang dianggap memiliki kaitan dengan jaringan teroris Al-Qaeda pimpinan Usamah Bin Ladin, terutama di kawasan Timteng. Maksud dibalik itu semua adalah untuk meredam kelompok-kelompok militan ataupun Negara yang menghalangi kepentingan imperialisme AS di kawasan Timteng, seperti yang dilakukan AS terhadap Iran dan Hamas Palestina.
Iran dan HAMAS Palestina dijadikan daftar Negara dan kelompok yang memiliki hubungan dengan jaringan teroris. Tahun lalu AS berupaya memerangi Iran, ketika Iran menolak tawaran resolusi PBB untuk menghentikan pengembangan teknologi nuklir. HAMAS sendiri dicap sebagai teroris dan AS tidak mengakui kemenangan HAMAS dalam pemilu di Palestina dan memberikan dukungan kepada pemerintah boneka Mahmoud Abbas di Palestina.
Imperialisme AS-Zionist Israel berharap akan muncul balasan dari kelompok-kelompok militan Islam di Timteng dan Iran tentunya. Iran menjadi incaran utama imperialisme AS, karena sikap pemerintahan Ahmadinedjad (borjuasi nasional) yang anti imperialisme AS dan Zionist Israel. Iran juga dianggap membahayakan kepentingan imperialisme AS dengan pengembangan teknolog nuklirnya dan dukungan terhadap kekuatan Islam yang anti imperialisme AS-Zionist Israel dan aliansi internasional dengan tokoh borjuasi nasional dari Venezuela, Hugo Chaves, yang juga anti imperialisme AS. Jika provokasi berhasil, imperialisme AS memiliki legitimasi atau keabsahan untuk turut campur, dengan dalih misi perdamaian dunia, penghentian pengembangan teknologi nuklir berbahaya dan perang terhadap terorisme, sebagamana yang dilakukan terhadap Afghanistan dan Irak.
Pemerintah Zionist Israel telah menyatakan tidak akan menghentikan serangan ke Palestina. Sementara AS menyatakan akan menambah bantuan militer AS ke Israel pada Januari 2009. Iut berarti, kita akan menyaksikan darah rakyat Palestina dan Arab yang tumpah di Timteng akibat perang agresi imperialisme AS-Zionist Israel. Artinya bahaya perang agresi dan bencana kemanusiaan tengah mengancam rakyat di Timteng.
IV. Perkuat Solidaritas Internasional, Dukung Pembebasan Rakyat Palestina
Rasa kemanusiaan terketuk atas apa yang terjadi di Palestina saat ini. Tapi kita tidak hanya meratapi saja, tetapi harus memberikan dukungan politik atas perjuangan rakyat Palestina dan Arab menggapai kemerdekaannya dari belenggu imperialisme AS-Zionist Israel. Penderitaan rakyat Palestina juga mencerminkan situasi yang dialami rakyat tertindas lainnya di negeri-negeri terbelakang. Hanya saja saat ini, imperialisme AS tengah menjadikan Palestina dan negeri-negeri Arab lainnya sebagai target kebiadaban mereka.
Rakyat negeri-negeri terbelakang lainnya akan bernasib sama, jika perjuangan rakyat untuk membebaskan diri dari belenggu imperialisme berlangsung sengit dan hebat. Rakyat di Filipina, Turki, India, Afghanistan, Pakistan, Sri lanka, Bangladesh, Peru, Kolombia dan lainnya, saat ini tengah mengalami hal tersebut. Mereka harus menghadapi rejim boneka imperialisme di negerinya yang menggunakan terorisme Negara (fasisme) untuk menindas, menembaki dan membunuh rakyat yang berjuang mendapatkan hak-haknya mencapai demokrasi dan kemerdekaan nasional.
Bagaimana dengan Indonesia? Fasisme juga tengah mengancam rakyat Indonesia. Ancaman itu terlihat dari meningkatnya kekerasan terhadap kaum tani di pedesaan yang berjuang mendapatkan haknya atas tanah, larangan demonstrasi menggunakan pengeras suara dan pengekangan kebebasan berserikat bagi organisasi-organisasi massa sejati yang memperjuangkan kepentingan massa-nya. Pemerintahan yang berkuasa saat ini tinggal menunggu waktu menjadi rejim tangan besi, sebagaimana zaman Soeharto dulu. Ini diakibatkan kebangkitan perlawanan rakyat yang terus meluas, seiring kemelarata merajalela yang dihadapi rakyat. Rejim berkuasa pasti tidak menghendaki kekuasaannya terganggu oleh kebangkitan gerakan rakyat. Hal itu menuntutnya harus bertindak keras (fasis) terhadap rakyat, guna membungkam rakyat agar tidak bangkit merebut hak-haknya yang telah dirampas. Bahaya fasisme ini menjadi tanda bagi gerakan massa di Indonesia untuk mempersipkan dirinya dalam perjuangan yang lebih hebat dan maju, untuk menghadapi rejim boneka imperialisme di Indonesia.
Menyadari nasib rakyat Palestina sama dengan rakyat tertindas lainnya di dunia termasuk rakyat Indonesia, penting bagi kita untuk memperkuat solidaritas internasional anti imperialisme dengan memperkuat gerakan pembebasan rakyat di negeri kita sekaligus mendukung segala tindakan maju dari rakyat negeri-negeri lainnya yang melakukan perlawanan terhadap imperialisme dan rejim boneka-nya, termasuk upaya rakyat Palestina melawan kekejaman Zionist Israel-imperialisme AS.
V. 20 Januari 2009 : Rakyat Dunia Mengecam Kebiadaban Imperialisme AS-Zionist Israel
Pada 20 Januari 2009, mata dunia akan tertuju di gedung putih Washington DC. Di hari itu, akan ada pelantikan Presiden baru AS, Barack Obama. Anak menteng ini akan melakukan pidato inaugurasinya sebagai kepala Negara resmi AS. Barrack Obama memenangkan Pemilu Presiden AS, dengan janji untuk mengatasi krisis ekonomi di AS, membantu terciptanya perdamaian dunia dan tetap melancarkan perang terhadap terorisme. Mungkinkah itu?
Selama Negara AS dipimpin dan dikuasai para borjuasi monopoli, semua yang dikampanyekan Obama hanyalah lip services atau omong kosong belaka. Siapa dibalik kemenangan Obama? Mereka adalah para borjuasi monopoli AS yang mengelontorkan uangnya untuk kemenangan Obama. Kekuasaan Obama akan sama saja mewakili kepentingan borjuasi monopoli AS dan tetap mempertahankan kepentingan imperialisme AS menguasai dunia. Sejak serangan Zionist Israel ke Palestina, Obama hanya berdiam diri saja. Dalam kebinet Obama juga masih menyisakan orang-orang lama, yang bertanggung jawab atas derita rakyat Irak, Lebanon, Irak, Afghanistan dan kemiskinan serta kemelaratan rakyat di berbagai belahan dunia.
Kita harus melihat momentum ini sebagai momentum penting bagi rakyat di seluruh dunia untuk menyatakan penghentian perang agresi imperialisme AS-Zionist Israel ke Palestina, stop perang terhadap Terorisme dan mendukung perjuangan rakyat seluruh negeri untuk membebaskan diri dari belenggu imperialisme dan rejim boneka-nya. ###
Jakarta, 14 Januari 2008
STOP : Agresi Militer Zionist Israel-Imperialisme AS ke Palestina!
Dukung Perjuangan Rakyat Palestina dan Arab Melawan Zionist Israel-Imperialisme AS!
Klas Buruh dan Rakyat Tertindas Seluruh Dunia Bersatu Melawan Imperialisme dan Rejim Bonekanya di Berbagai Negeri!
Perkuat Persatuan dan Perhebat Perjuangan Rakyat Indonesia Melawan Rejim Boneka Imperialisme, SBY-JK!
Leave a Comment
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
